06 January 2009

Makalah Perencanaan Komunikasi

SOSIALISASI UU NO. 18 TAHUN 2008

TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

KOTA SURABAYA

A. LATAR BELAKANG

Persoalan sampah seolah-olah merupakan masalah abadi di dunia. Sepanjang hidup manusia, permasalahan sampah akan terus menguntit. Apalagi di kota metropolitan seperti Surabaya. Permasalahan sampah sebenarnya merupakan bagian dari konsekuensi hidup karena setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Namun ketika kita membicarakan tentang sampah, seringkali kita terjebak dengan pembicaraan yang negatif. Sisi polutif sampah merupakan hal yang senantiasa menghantui masyarakat.

Pada dasarnya sampah memang merupakan bahan yang terbuang dan tidak menghasilkan keuntungan ekonomis bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif. Hal ini disebabkan dalam penanganannya baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Namun, paradigma yang memandang sampah sebagai barang yang tidak berguna harus kita buang jauh-jauh dari pemikiran kita.



Supaya sampah tidak menjadi barang yang mubazir dan hanya mengakibatkan bencana, maka kita perlu memikirkan konsep pengelolaan sampah terpadu. Sistem pengelolaan sampah harus lebih efektif, efisien, dapat diandalkan dan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Dengan adanya UU 18/2008, Pemkot Surabaya bisa merancang peraturan daerah yang dapat mendukung implementasi pengolahan sampah, mulai sumber penghasil sampah sampai di TPA. Dengan regulasi baru ini, TPA tidak lagi menjadi kependekan kata tempat pembuangan akhir, tetapi tempat pengolahan akhir.

Substansi penting UU ialah semua pemerintah kabupaten/kota harus mengubah sistem pembuangan sampah menjadi sistem pengelolaan sampah. Dengan UU ini, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sebelumnya memakai sistem open dumping dengan mengumpulkan, mengangkut, dan membuang harus diganti menjadi sanitary landfill. Dengan open dumping system, di TPA sampah hanya dipadatkan. Namun, dengan proses sanitary landfill sampah harus melalui pemilahan bertingkat. Sebelum masuk TPA, sampah rumah tangga harus dipilah-pilah. Sampai di TPA pun sampah harus dipilah lagi sehingga betul-betul tereduksi dengan volume minimal.

Bila mengacu pada UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dan diterapkan di Surabaya, wajah TPA Benowo akan berubah total. Para pemulung tak lagi menjadi profesi nggilani, tapi betul-betul profesi. Selain menjadi pengepul, peran pemulung di sana akan menjadi pemilah sampah. Dari paradigma lama kumpul-angkut-buang menjadi prinsip 3 R, yakni reduce, reuse, and recycle (kurangi, memanfaatkan kembali, dan mengolah).

Disisi lain, dalam sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk dan memberikan peluang pihak swasta untuk berpartisipasi aktif. Pemberdayaan masyarakat untuk dapat memilah, mana sampah yang organik dan mana sampah yang anorganik juga menjadi kunci strategis dalam pengelolaan sampah terpadu. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi mengapa peran swasta perlu diikutsertakan dalam pengelolaan sampah. Pertama, organisasi pemerintah dianggap terlalu gemuk sehingga menjadi sangat lamban dalam menangani langsung permasalahan sampah. Kedua, privatisasi dapat mengembalikan tugas pemerintah yang sebenarnya sebagai pengendali negara bukan sebagai pelaksana. Ketiga, Privatisasi akan memberikan manfaat bagi konsumen atau stakeholder karena swasta memiliki mekanisme insentif.

Keempat, privatisasi meransang kompetensi yang akan menuju pada efisiensi. Kelima, privatisasi akan membantu pemerintah untuk membangun infrastruktur. Keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan sampah dipercaya akan dapat lebih menciptakan efisiensi daripada pemerintah, karena sektor swasta lebih menggunakan acuan bisnis dalam pengelolaan dan dapat memfokuskan penyelesaian kinerja buruk dan rendahnya produktifitas. Namun, tujuan yang utama adalah agar pihak swasta ikut berpartisipasi dalam program ini, bukan hanya menjadi “pembuang” saja, tetapi juga sebagai “pengolah”.

Seperti halnya dari pantauan yang dilakukan Tim BPLH Surabaya sampai sekarang tidak ada mall yang punya perhatian serius pada masalah sampah. Dengan disahkannya Undang-undang persampahan seharusnya semua mall di Surabaya punya kepedulian tinggi pada lingkungan masing-masing dan sudah mulai dibiasakan melakukan proses pemilahan sampah. Selain di mall, pasar-pasar di Surabaya yang berpotensi besar menyumbang sampah dengan jumlah yang sangat besar, diharapkan dengan adanya sosialisasi undang-undang persampahan semua mall dan pasar-pasar serta masyarakat pada umumnya akan lebih peduli pada masalah pengelolaan sampah mandiri dan tidak semakin menambah jumlah sampah yang terbuang ke TPA.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana bentuk sosialisasi UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah yang akan dikomunikasikan ?
  2. Bagaimana komunikasi akan berlangsung ?
  3. Sejauh mana efek dari hasil komunikasi ini ?

C. LANDASAN TEORI

PENGERTIAN UMUM KOMUNIKASI

  1. Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Gerak dan tangis pertama pada saat ia dilahirkan adalah tanda komunikasi.[1]

Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa non-verbal.

  1. Unsur-unsur komunikasi

Unsur atau Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:

  • Who? (siapa/sumber).

Sumber/komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi, bisa seorang individu,kelompok,organisasi,maupun suatu negara sebagai komunikator.

  • Says What? (pesan).

Apa yang akan disampaikan/dikomunikasikan kepada penerima(komunikan),dari sumber (komunikator) atau isi informasi. Merupakan seperangkat symbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan/maksud sumber tadi. Ada 3 komponen pesan yaitu makna, symbol untuk menyampaikan makna dan bentuk/organisasi pesan.

  • In Which Channel? (saluran/media).

Wahana/alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap muka), maupun tidak langsung(melalui media cetak/elektronik dll).

  • To Whom? (untuk siapa/penerima).

Orang/kelompok/organisasi/suatu negara yang menerima pesan dari sumber.Disebut tujuan(destination)/pendengar(listener)/khalayak(audience)/komunikan/penafsir/penyandi balik(decoder).

  • With What Effect? (dampak/efek).

Dampak/efek yang terjadi pada komunikan(penerima) setelah menerima pesan dari sumber,seperti perubahan sikap,bertambahnya pengetahuan, dll.

  1. Fungsi Komunikasi

1. Membangun Konsep Diri (Establishing Self-Concept)

2. Eksistensi Diri (Self Existence)

3. Kelangsungan Hidup (Live Continuity)

4. Memperoleh Kebahagiaan (Obtaining Happiness)

5. Terhindar dari Tekanan dan Ketegangan (Free from Pressure and Stress)

  1. Komunikasi efektif

Komunikasi yang efektif adalah proses komunikasi yang dapat mencapai tujuannya. Efek komunikasi yang sesuai tujuan antara lain:

· Kognitif; timbul pada komunikan yang menyebabkan komunikan tersebut dapat mengetahui informasi.

· Afektif; dampak pada komunikan yang menyebabkan timbulnya perasaan tertentu sehingga tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu.

· Behavioral; dampak dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan tertentu.

Faktor Komunikasi efektif

Scott M. Cultip dan Allen H. Center dalam bukunya Effective Public Relation mengemukakan bahwa terdapat tujuh faktor yang menyebabkan komunikasi menjadi efektif. Ketujuh faktor tersebut disebut Seven C’s Communication, yaitu:

  1. Credibiliy (Kredibilitas)

Komunikasi baru bisa berjalan efektif apabila ada rasa saling percaya antara komunikan.

  1. Context (Konteks)

Keberhasilan komunikasi berkaitan erat dengan situasi dan kondisi lingkungan yang terjadi pada saat.

  1. Content (isi)

Keberhasilan komunikasi tercapai apabila isi pesan/berita dapat dimengerti oleh komunikan dan si komunikan mau memberikan respon/feedback kepada komunikator.

  1. Clarity (Kejelasan)

Yang dimaksud di sini adalah kejelasan ini berita/pesan yang disampaikan, antara lain kejelasan tujuan yang akan dicapai serta kejelasan istilah yang dipakai dalam komunikasi yang dijalin.

  1. Continuity and Consistency (Kesinambungan dan konsistensi)
  2. Capacity of audience (Kemampuan komunikan)

Komunikator hendaknya mampu memperkirakan kemampuan komunikan dalam memahami pesan yang disampaikan.

  1. Channels of Distribution (Media Pengiriman Berita)

Agar komunikasi dapat berlangsung efektif, hendaknya diggunakan saluran-saluran (media) komunikasi yang sudah umum atau biasa digunakan.[2]

Kualitas komunikator efektif

Partisipasi merupakan modal dasar untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. Karenanya dibutuhkan kemampuan komunikasi efektif. Kemampuan ini meliputi kemampuan untuk berbagi ide, mengkritik dari semua aspek, mendorong dan merangsang imajinasi, menolak buah pikiran yang kurang tepat, dan mengenal sejak dini solusi yang mungkin bisa diambil. Diantara ciri-ciri komunikator efektif ialah :

Ciri-Ciri

Deskripsi

Menilai Orang

Tahu mana yang penting dan menghargai kontribusi orang lain

Mendengarkan secara Aktif

Berusaha keras memahami keinginan dan masalah orang lain

Bijaksana

Memberikan kritik secara halus. konstruktif dan hormat

Memberikan pujian

Menghargai orang lain dan kontribusi mereka di depan umum

Konsisten

Mengendalikan suasana riang; memperlakukan sama bagi semuanya: tidak favorit

Mengakui kesalahan

Kemauan untuk mengakui kesalahan

Memiliki rasa humor

Mempertahankan posisi yang menyenangkan dan pendekatan yang enak

Memberi contoh yang baik

Melakukan apa yang diharapkan orang lain

Menggunakan bahasa Jelas, Lugas, dan Tepat

Kata-kata yang lazim, konkret, pemberian petunjuk, yang menyentuh perasaan penyimak. Hindari kata-kata bercita rasa buruk, kata-kata langsung.

  1. Hambatan-hambatan komunikasi yang sering terjadi adalah:

Jenis Hambatan

Deskripsi

Fisik

Hal menyangkut ruang fisik, lingkungan

Biologis

Hambatan karena ketidaksempurnaan anggota tubuh

Intelektual

Hambatan yang berhubungan dengan kemampuan pengetahuan

Psikis

Hambatan yang menyangkut faktor kejiwaan, emosional, tidak saling percaya, penilaian menghakimi

Kultural

Hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya, bahasa

Perencanaan Komunikasi

Perencanaan adalah pernyataan tertulis mengenai segala sesuatu yang akan atau yang harus dilakukan. Sifat perencanaan selalu berorientasi ke masa yang akan datang (future oriented). Perencanaan komunikasi adalah pernyataan tertulis mengenai serangkaian tindakan tentang bagaimana suatu kegiatan komunikasi akan atau harus dilakukan agar mencapai perubahan perilaku sesuai dengan yang kita inginkan. [3]

Dipahami ada empat (4) elemen utama Perencanaan, yaitu :

  1. Tujuan (Objective). Kondisi masa depan yang akan dicapai.
  2. Aksi (Action). Serangkaian kegiatan yang yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
  3. Sumber Daya (Resouces). Hal-hal yang dibutuhkan dalam melaksakan aksi.
  4. Pelaksanaan (Implementation). Tata cara dan arah pelaksanaan kegiatan.

Pada proses perencanaan tersebut, dampak ataupun akibat yang dihasilkan sangat bergantung pada ke-empat elemen perencanaan. Dalam proses perencanaan tersebut, peran komunikasi merupakan ketrampilan penting yang harus dimiliki oleh para manager. Karenanya dapat dikatakan pula bahwa perencanaan komunikasi meliputi fungsi-fungsi manajemen , yaitu :

  1. Merencanakan (Planning).
  2. Mengadakan (Organizing).
  3. Mengutamakan (Leading).
  4. Mengawasi (Controlling).[4]

Tahapan perencanaan komunikasi pada dasarnya terdiri dari: (1) tahap identifikasi masalah komunikasi, (2) tahap perumusan tujuan komunikasi, (3) tahap penetapan rencana strategik, (4) tahap penetapan rencana operasional, (5) tahap penyusunan rencana evaluasi, dan (6) tahap merencanakan rekomendasi. Tahapan-tahapan tersebut harus dilakukan satu persatu secara berurutan, tidak boleh meloncat-loncat.

Dalam tahap identifikasi masalah perlu dilakukan pengumpulan data/fakta/informasi mengenai kondisi khalayak sebagai bahan untuk melakukan analisis khalayak. Perumusan masalah harus berdasarkan pada felt needs dan real needs yang dimiliki oleh khalayak sasaran.

Tujuan komunikasi adalah tujuan yang menyangkut upaya untuk mengubah perilaku sasaran setelah kegiatan komunikasi dilakukan. Rumusan tujuan harus memuat: khalayak sasaran, cakupan jumlah sasaran, dan perubahan perilaku yang diinginkan. Rencana operasional adalah uraian secara konsepsional mengenai sumber daya-sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan suatu program atau proyek.

Penetapan rencana strategik memuat unsur-unsur 5 M, yaitu: Man, Messages, Media, Money, dan Means. Rencana operasional adalah uraian terperinci dan sistematik mengenai rencana kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam pelaksanaan program, menyangkut alokasi waktu pelaksanaan kegiatan-kegiatan, dan hubungan antarkegiatan. Rencana evaluasi adalah rencana mengenai cara penilaian program yang dapat berupa: evaluasi proses, evaluasi hasil, dan evaluasi dampak program. Rencana rekomendasi adalah rencana mengenai saran atau rekonsiderasi yang akan diajukan sesuai dengan rencana evaluasi untuk memperoleh bahan masukan bagi perbaikan maupun pengembangan program.

D. PEMBAHASAN

PESAN DAN TUJUAN KOMUNIKASI

Pesan yang hendak dikomunikasikan yaitu menjelaskan pengertian dan dampak dari sampah bagi lingkungan dan bahayanya bagi kesehatan. Kemudian mengampanyekan pengolahan (daur ulang) dengan melaksanakan hal-hal yang dapat mengurangi dampaknya. Dengan kampanye ini diharapkan masyarakat semakin sadar akan bahaya dampak sampah jika dibiarkan dan mau memulihkan lingkungan dengan melaksanakan himbauan-himbauan yang di kampanyekan.

PESAN KOMUNIKASI

I. Pengertian Sampah

Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous).

Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
  2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton.

II. Dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:

  1. Gangguan Kesehatan

Tempat-tempat penumpukan sampah merupakan lingkungan yang baik bagi hewan penyebar penyakit penyakit misalnya : lalat, nyamuk, tikus, dan bakteri patogen (penyebab penyakit). Adanya hewan-hewan penyebar penyakit tersebut mudah tersebar dan menajalar ke lingkungan sekitar. Penyakit-penyakit itu misalnya kolera, disentri, tipus, diare, dan malaria.

  1. Penyumbatan Saluran Air dan banjir

Sampah jalanan dan rumah tangga sering bertaburan dan jika turun hujan akan terbawa ke got/sungai, akibatnya sungai tersumbat dan timbul banjir. Selanjutnya banjir dapat menyebarkan penyakit, banyak got di musim hujan menjadi mampet karena penduduk membuang sampah disembarang tempat. Kebiasaan membuang sampaj di sungai dihilangkan.

  1. Menurunnya estetika lingkungan

Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata.

  1. Dampak Sosial Terhadap masyarakat
    • Kerukunan

Permasalahan sampah dapat berkaitan dengan nilai kerukunan, atau sebaliknya justru dapat menambah kerukunan. Orang yang sering membuang sampah di sekitar tempat tinggalnya dan mencemari ligkungan dapat menimbulkan ketidaksenangan tetangganya. Hal yang demikian ini dapat menimbulkan keretakan hubungan antara tetangga. Kondisi yang demikian perlu di ubah agar terjadi hal yang sebaliknya, yakni dapat semakin meningkatkan kerukunan.

Misalnya pada awalnya tetangga yang merasa dirugikan melaporkan kepada RT atau yang berwenang. Selanjutnya ketua RT pejabat memanggil warganya untuk bermusyawarah dan mengadakan penyuluhan kebersihan. Akhirnya perlu diadakan gotong royong melakukan pembersihan lingkungan agar setia warga merasa bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungannya.

· Kesanggupan

Setiap warga hendaknya memiliki kesanggupan untuk menempatkan sampah pada tempatnya, memisahkan sampah yang terurai dan yang tidak teruai, menjaga kebersihan lingkungannya, dan tidak membuang sampah yang tergolong bahan beracun dan berbahaya (B3) ke sembaranga tempat. Pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan, juga bukan merupakan pekerjaan yang mustahil untuk dilakukan. Maka yang dipentingkan adalah kesadaran dan kesanggupan.

  1. Terhambatnya pembangunan negara

Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun.

III. Pengelolaan Sampah

Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.

Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan adalah:

a. Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan.

b. Pemanfaatan Kembali

Kegiatan pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas:

  • Pemanfaatan sampah organik, seperti composting (pengomposan). Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan lingkungan.

Berdasarkan hasil, penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai 25%.

Pemilihan Sampah

1. Proses Pemilahan Sampah

2. Proses Pembuatan Kompos

3. Pembuatan Kompos

  • Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.

c. Tempat Pembuangan Sampah Akhir

Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai ± 10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda.

Dengan pengelolaan sampah yang baik, sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%. Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam, mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah.

KOMUNIKATOR

Komunikator adalah pelaku utama/pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, maupun suatu negara sebagai komunikator. Komunikator dalam hal ini adalah:

1. Pemerintah pusat sebagai pihak pengendali Negara.

2. Pemerintah kota sebagai pihak otonom daerah (PEMDA).

3. Dinas Kesehatan sebagai dinas terkait.

4. Instansi-instansi swasta atau organisasi yang peduli terhadap masalah ini.

KOMUNIKAN

Komunikan yanga hendak dituju pada kampanye ini adalah masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat kota surabaya khususnya dengan karakteristik sebagai berikut:

· Jenis kelamin : laki-laki dan perempuan.

· Usia dewasa, orang tua atau anak-anak.

· Tinggal atau bermukim di Surabaya.

PROSES DAN MEDIA KOMUNIKASI

Dalam kampanye ini menggunakan proses komunikasi dua arah, dalam hal ini sosialisasi UU no. 18 tahun 2008 dari komunikator langsung ke masyarakat (komunikan). Selain itu komunikasi satu arahpun juga diperlukan (one way traffic communication) dimana komunikan bertindak pasif. Berkaitan dengan media, kampanye ini menggunakan model komunikasi primer dan sekunder, yaitu dengan menggunakan media bahasa atau simbol dan media kedua seperti radio, televisi dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi masalah ruang dan waktu sebagai penghambat proses komunikasi.

Media Spanduk diletakkan di tempat-tempat strategis. Seperti di jalan protokol, jembatan penyeberangan, pertigaan atau perempatan, tempat wisata, taman kota dan sebagainya. Dengan spanduk ini diharapkan komunikan dapat dijangkau karena dengan meletakkannya di tempat-tempat strategis pesan kampanye akan mudah tersampaikan.

Selain itu pamflet juga ditempelkan di seluruh papan informasi di lingkungan kota. Dengan begitu target komunikan akan bertambah banyak. Penggunaan media radio disemua saluran diharapkan mampu mencapai tujuan komunikasi ini. Begitu juga televisi, masyarakat kita saat ini adalah masyarakat yang suka akan hiburan, terutama televisi karena mudah dijangkau, minimal satu rumah terdapat satu televisi. Dengan begitu pesan kampanye-pun akan tersampaikan dengan menyisipkannya disela-sela program televisi.

RUMUSAN PESAN

1. Pesan yang ditulis di spanduk, misalnya:

2. Sedangkan pesan yang ditulis di pamflet, misalnya:

3. Pesan yang akan disampaikan dalam melalui media radio atau TV berupa dialog singkat, misalnya:

Terdapat dua orang bersaudara sedang berdialog di teras rumah :

Samson “Mas Pahing, akhir-akhir ini hujan turun sangat lebat ya, sampai-sampai rumah kita kebanjiran lagi..wah air ne bener-bener nggak bersahabat. Saat dibutuhkan nggak turun-turun, tapi waktu dah banyak, eeeee.....masih ja turun terusss, mana badanku mulai nggak enak neh..” ketus samson, sambil membenarkan sarungnya.

Pahing Nah..itu...itu...

Samson Apaan sih itu...itu terus?

Pahing Ya itu, itu akibatnya klo kamu buang sampah sembarangan, coba klo kamu buang sampah pada tempat yang telah disediakan...pasti air got itu akan mengalir lancar, dan rumah kita nggak akan kebanjiran. Badan kamu mulai sakit ya...jangan salahkan hujannya lho...gara-gara air got nggak bisa mengalir lancar, makanya nyamuk-nyamuk pada bertelur dan berkembangbiak, trus gigit kamu....

Samson “wah dasar nyamuk ne nggak punya perasaan....” sambung samson, sewot...

Pahing “Wo....dasar semprul!! Kamu yang nggak punya perasaan...buang sampah sembarangan, bukan hanya bikin badan kamu yang dihinggapi penyakit, tapi orang lain juga keena....”.

Samson “Oo....tapi kayaknya, yang piket nyapu dan buang sampah bukan cuman aku deh mas dirumah ini....” jawab samson sambil melirik Pahing....

Pahing %^$$*^^%*^$^%$%^#%, ???????

Ibu (dari dalam rumah...) Sam...Pah...Ayo makan dulu....

Samson+Pahing ???????????????? Makan Sampah ????????????

HAMBATAN-HAMBATAN

Hambatan-hambatan yang kemungkinan terjadi dalam proses komunikasi:

1. Kurangnya perhatian komunikan terhadap spanduk dan pamflet yang terpasang kerena terlalu banyak spanduk dan pamflet lain yang tidak teratur dan sudah out of date, sehingga iklan kampanye ini dianggap informasi yang telah lalu.

2. Banyaknya pamflet yang disobek atau ditutupi dengan pamflet informasi lain sehingga menjadi tidak terbaca dan pesan tidak sampai kepada komunikan.

3. Kurangnya respon dari masyarakat karena pola hidup mereka yang bersifat hedonis dan kurang peka terhadap masalah lingkungan.

4. Kurangnya kesadaran masyarakat mengenai hidup bersih dan sehat.

5. Paradigma bahwa sampah adalah sesuatu yang “merugikan” sulit untuk diubah.

D. REVIEW

Kegiatan kampanye sosial pembuangan dan pemberdayaan sampah ini diawali dengan menemukan gagasan tentang pentingnya masalah sampah dan penanggulangannya, sehingga perlu dilakukan sosialisasi. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan komunikan dan target audience yaitu segenap masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat kota surabaya khususnya.

Selanjutnya menetukan model komunikasi dan media yang digunakan dalam menyampaikan pesan kampanye ini. Setelah ditentukan model komunikasi primer dan sekunder, maka dalam prosesnya membutuhkan media pertama yaitu workshop atau sosialisasi dan media kedua yaitu spanduk, pamflet, radio dan televisi. Setelah penyusunan pesan, pemublikasian pesan mulai dilaksanakan. Spanduk diletakkan di tempat-tempat strategis seperti jembatan penyeberangan, taman kota dan sebagainya. Sedangkan pamflet ditempelkan di seluruh papan informasi di lingkungan kota atau instansi-instansi yang ada. Selain itu kampanye ini juga disiarkan dalam bentuk iklan sosial berdurasi pendek di radio dan televisi, sehingga dapat didengar langsung oleh komunikan.

Tujuan kampanye ini tidak harus tercapai secara langsung karena membutuhkan kesadaran komunikan. Tujuan utama kampanye ini adalah menyentuh aspek afektif komunikan yang kemudian diharapkan akan tercapai pula aspek behavioralnya.

* * *

SEKEDAR KOMENTAR MENGENAI UU NO. 18 TAHUN 2008

Ada beberapa hal yang sangat menarik mengenai Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah ini. Pertama adalah mengenai penggolongan jenis sampah yang dikelola. Berdasarkan Pasal 2 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008, sampah yang dikelola terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga dan sampah spesifik. Sampah rumah tangga berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah spesifik meliputi:

a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;

b. sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;

c. sampah yang timbul akibat bencana;

d. puing bongkaran bangunan;

e. sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau

f. sampah yang timbul secara tidak periodik.

Hal yang disayangkan dalam undang-undang ini adalah tidak dimasukkannya sampah elektronik dalam definisi sampah itu sendiri. Hal ini pernah dibicarakan dalam salah satu program di televisi swasta beberapa waktu lalu. Sampah elektronik merupakan jenis sampah yang sulit untuk diolah dan memerlukan penanganan khusus. Tanpa kita sadari, kita sudah banyak menumpuk sampah elektronik. Tentunya kita pasti pernah memiliki monitor, CPU, atau printer yang sudah rusak dan tidak akan tertolong walaupun sudah dibawa ke tempat perbaikan.

Bingung mau dikemanakan, akhirnya kita memberikan ke penyalur barang-barang bekas. Namun sadarkah kita bahwa penyalur tersebut tidak mengetahui cara yang tepat untuk mengolah sampah tersebut? Akhirnya mereka hanya membongkar tanpa mempedulikan keselamatan mereka. Mungkin banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa komponen elektronik mengandung muatan karbon dan senyawa berbahaya bagi kesehatan yang akan keluar apabila tidak diolah dengan tepat.

Hal yang juga menarik tercantum dalam Pasal 21 mengenai diberikannya insentif dan disinsentif. Insentif akan diberikan pada setiap orang yang mengurangi sampah, sementara disinsentif akan diberikan pada setiap orang yang tidak mengurangi sampah. Ketentuan ini akan diatur di dalam peraturan pemerintah. Bentuk insentif apakah yang akan diberikan pemerintah? Jika berbentuk uang atau pengurangan jumlah tagihan listrik, air atau telepon, mungkin akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengurangi sampah.

Namun yang menjadi masalah adalah ukuran apa yang akan dipakai untuk menyatakan orang tersebut dikatakan mengurangi sampah. Apakah harus ditimbang per hari berdasarkan catatan periodik tertentu? Mengenai hal ini agaknya harus dipikirkan matang-matang oleh pemerintah kita, mengingat yang membuang sampah tidak hanya rumah tangga tetapi juga industri yang jumlahnya sangat banyak.


[1] A.W. Widjaja. Ilmu Komunikasi (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2000)

[2] Tim Pusdiklat. Hal 21

[3] massofa.wordpress.com/2008/04/16/tahapan-dalam-perencanaan-komunikasi/

[4]Awandaerna.multiply.com/journal/item/3/PERENCANAAN_KOMUNIKASI_DAN_MASALAHNYA





7 comments:

  1. NB bagi para pembaca :
    Makalah ini adalah tugas mata kuliah Ilmu Komunikasi, namun hanya pengambilan data dari "beberapa" sumber tanpa adanya PENELITIAN mendalam mengenai permasalahan diatas.
    Mengenai Benar-Tidaknya penulisan, tolong jangan disalahkan (hehehe) cukup di-ingat-kan kalau "coretan" diatas "kurang benar" dan beri Masukan ya...(eemang nggak niat ^%$%^%**&$Q@#$#!!!)

    ReplyDelete
  2. hehehe..menurutku udah bagus sih ^_^

    ReplyDelete
  3. jejaK ajaH kanD?
    necH aKooH dagH tinggaLinD jejaK kaTaKooH...
    makasIH dagH baNtu aKooH ma teMenD2KooH nGeRjaiN tugaS B.iNdoKooH...
    Te.Oo.Phee...DecH!!!

    ReplyDelete
  4. bagus! kata itu akau rasa pantas. ditingkatkan terus ya.....

    ReplyDelete
  5. bagus tapi masih global

    ReplyDelete
  6. aku kurang tahu juga yach,,, tp mnurutq bags,,, bisa mberikanku gambaran. tp kalo boleh nanya... dlu it dapat nilai berapa yach??? hehe(nanya eneran ni)

    ReplyDelete
  7. hehehe, lupa yah...dapet berapa ya dulu... :)

    ReplyDelete


<< Top Entry >>

Popular Posts

Catatan Dahlan Iskan

Buku Sahabat

My Blog

Be my friend ...